Kumpulan Puisi

DOA SEORANG SERDADU SEBELUM BERPERANG

 Oleh :

W.S. Rendra

Tuhanku,
WajahMu membayang di kota terbakar
dan firmanMu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal

Anak menangis kehilangan bapa
Tanah sepi kehilangan lelakinya
Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia

Apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara
Waktu itu, Tuhanku,
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku

Malam dan wajahku
adalah satu warna
Dosa dan nafasku
adalah satu udara.
Tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari
-biarpun bersama penyesalan-

Apa yang bisa diucapkan
oleh bibirku yang terjajah ?
Sementara kulihat kedua lengaMu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianatiMu

Tuhanku
Erat-erat kugenggam senapanku
Perkenankan aku membunuh
Perkenankan aku menusukkan sangkurku
***

 

 

 

AKU TULIS PAMPLET INI
Oleh :
W.S. Rendra

Aku tulis pamplet ini
karena lembaga pendapat umum
ditutupi jaring labah-labah
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng – iya – an

Apa yang terpegang hari ini
bisa luput besok pagi
Ketidakpastian merajalela.
Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki
menjadi marabahaya
menjadi isi kebon binatang

Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
Tidak mengandung perdebatan
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan

Aku tulis pamplet ini
karena pamplet bukan tabu bagi penyair
Aku inginkan merpati pos.
Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku
Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.

Aku tidak melihat alasan
kenapa harus diam tertekan dan termangu.
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.

Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.

Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
Rembulan memberi mimpi pada dendam.
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah

yang teronggok bagai  sampah
Kegamangan. Kecurigaan.
Ketakutan.
Kelesuan.

Aku tulis pamplet ini
karena kawan dan lawan adalah saudara
Di dalam alam masih ada cahaya.
Matahari yang tenggelam diganti rembulan.
Lalu besok pagi pasti terbit kembali.
Dan di dalam air lumpur kehidupan,
aku melihat bagai terkaca :
ternyata kita, toh, manusia !

Pejambon Jakarta 27 April 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi

***

 

GERILYA

Oleh :

W.S. Rendra

 

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling di jalan

Angin tergantung
terkecap pahitnya tembakau
bendungan keluh dan bencana

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan

Dengan tujuh lubang pelor
diketuk gerbang langit
dan menyala mentari muda
melepas kesumatnya

Gadis berjalan di subuh merah
dengan sayur-mayur di punggung
melihatnya pertama

Ia beri jeritan manis
dan duka daun wortel

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan

Orang-orang kampung mengenalnya
anak janda berambut ombak
ditimba air bergantang-gantang
disiram atas tubuhnya

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan

Lewat gardu Belanda dengan berani
berlindung warna malam
sendiri masuk kota
ingin ikut ngubur ibunya

GUGUR

 Oleh :

W.S. Rendra

 

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Tiada kuasa lagi menegak
Telah ia lepaskan dengan gemilang
pelor terakhir dari bedilnya
Ke dada musuh yang merebut kotanya
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Ia sudah tua
luka-luka di badannya

Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya
Matanya bagai saga
menatap musuh pergi dari kotanya

Sesudah pertempuran yang gemilang itu
lima pemuda mengangkatnya
di antaranya anaknya
Ia menolak
dan tetap merangkak
menuju kota kesayangannya
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Belumlagi selusin tindak
mautpun menghadangnya.
Ketika anaknya memegang tangannya
ia berkata :
” Yang berasal dari tanah
kembali rebah pada tanah.
Dan aku pun berasal dari tanah
tanah Ambarawa yang kucinta
Kita bukanlah anak jadah
Kerna kita punya bumi kecintaan.
Bumi yang menyusui kita
dengan mata airnya.
Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
Bumi kita adalah kehormatan.
Bumi kita adalah juwa dari jiwa.
Ia adalah bumi nenek moyang.
Ia adalah bumi waris yang sekarang.
Ia adalah bumi waris yang akan datang.”
Hari pun berangkat malam
Bumi berpeluh dan terbakar
Kerna api menyala di kota Ambarawa

Orang tua itu kembali berkata :
“Lihatlah, hari telah fajar !
Wahai bumi yang indah,
kita akan berpelukan buat selama-lamanya !
Nanti sekali waktu
seorang cucuku
akan menacapkan bajak
di bumi tempatku berkubur
kemudian akan ditanamnya benih
dan tumbuh dengan subur
Maka ia pun berkata :
-Alangkah gemburnya tanah di sini!”

Hari pun lengkap malam
ketika menutup matanya

 

 

LAGU SEORANG GERILYA

(Untuk puteraku Isaias Sadewa)

Oleh :
W.S. Rendra

Engkau melayang jauh, kekasihku.
Engkau mandi cahaya matahari.
Aku di sini memandangmu,
menyandang senapan, berbendera pusaka.

Di antara pohon-pohon pisang di kampung kita yang berdebu,
engkau berkudung selendang katun di kepalamu.
Engkau menjadi suatu keindahan,
sementara dari jauh
resimen tank penindas terdengar menderu.

Malam bermandi  cahaya matahari,
kehijauan menyelimuti medan perang yang membara.
Di dalam hujan tembakan mortir, kekasihku,
engkau menjadi pelangi yang agung dan syahdu

Peluruku habis
dan darah muncrat dari dadaku.
Maka  di saat seperti itu
kamu menyanyikan lagu-lagu perjuangan
bersama kakek-kakekku yang telah gugur
di dalam berjuang membela rakyat jelata
Jakarta, 2 september 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi

 

 

ANAKKU MENULIS MERDEKA ATAU MATI

Oleh :

Wahyu Prasetya

Dengan cat semprot anakku menulis di dinding-dinding rumah
kalimat yang ia pilih dari buku tulis sejarah sekolah dasarnya
warna merah yang melukiskan masa lampau pekikan
ada luka parah, ada khianat, ada timbunan tentara, petani…
peperangan akan selalu direncanakan dari pikiran sebuah rumah
maka ia mengecatnya,
“merdeka atau mati”
lalu teman-temannya pun menambahkan beberapa kata-kata,
“viva iwan fals!”

dari sebuah dinding rumah, sejuta senjata dan calon korban dicatat
bahkan ada pula yang berani menyemprotnya dengan cat merah, jari-jari
anak-anakku
apakah beda kemerdekaan ini dengan ketulusan tentang mati
apalah arti letusan di benua dengan 350 tahun yang menggilas kita
Indonesia adalah sebuah peta yang pernah diperdaya oleh ranjau intrik,
bom dan kasak kusuk,
“merdeka atau mati”
Lalu aku pun menyisipkan kata-kata juga
“hidup ibu hidup bapak hidup dada hidup dedy”
malampun menyisakan bauan tinner dan huruf melotot
biarlah
Kemerdekaan yang kami syukuri dalam rumah sederhana ini
hanya huruf, kalimat dan bahasa cat semprot
dan jari jari anak anakku yang mengutip ingatan buku tulis sejarahnya
esok ia akan membacanya keras-keras, hallo indonesia?
hallo Kemerdekaan siapa?

malang, 1.5.1995

 

MENATAP BENDERA DALAM GERIMIS

Oleh :

Wahyu Prasetya

kelembutan waktu yang melahirkan seribu musim dan sejarah
dalam masa lalu yang dicucuri airmata dari segala orang.
saat teror, darah yang mudah dilupakan, bahkan kematian,
lalu tiba kami memndang pembangunan gedung, hotel, golf…
sejarah ternyata tak cengeng,
walau dikelilingi nasib sial dan pegkhianatan
kami menatap langit luas dengan lambaian bendera,
bersama gerimis
yang dijelmakan oleh celoteh 180 juta anak anak

tempatku ngomong kadang di tengah malam yuang ngantuk
tanpa kalimat panjang apalagi bahasa yang benar.
orang orang merdeka,
menelponku lewat telpon genggam dan faximile:
surat kabar dicetak dengan huruf huruf: laba
maka seratus gedung sekolah dasar di pelosok IDT
roboh
diruntuhkan oleh kenyataan dan tipudaya kebenaran siapa

menatap bendera dalam gerimis kedua mata anak istri
dan orang orang yang hidup sebagai diriku.
sebagai korek api yang seakan akan diyakini
segera menjelma kebakaran di kampung halaman Jakarta
merdeka!
aku ternakar dalam ketakpahaman pikiran sendiri
ada yang sia sia harus dituliskan oleh sebatang besi!

1995

 

OPERA MALAM MUSIM KEMARAU

Oleh :
Yono Wardito

  1

ilalang sunyi,
merahasiakan cinta sepasang burung layang-layang

begitu lembut,
senja yang dicipta untuk nya

angin diam,
bisu,
atau kagum kah dia ?

pada panorama, kasih Illahi,

begitu abadi,

begitu abadi …..
2

kau koyak mimpi yang hadir menutupi mata
angin, begitu pekat nya memeluki dingin, kesunyian

hingga berdarah, kau koyak lagi
mimpi, jua kah kau ?

begitu tanya,
biar ?

mengawang ……
3

kawan,
lekang bedeng yang kupijak
begitu juga hutan ku
seperti air, tak berpihak padaku

bila malam,
bintang gemintang tertutup kabut
tangisan, dan serpihan kulit, sedikit daging,abu dedaunan
bertaburan,keangkasa,bersujud pada Nya
pada Illahi.

K A K I

Oleh :

Yono Wardito

kaki, dikepala menginjak kutu
kaki, dikaki langit

kaki, didalam air menakuti ikan
kaki, dikaki tebing

kaki, didada menendang-tendang
kaki, dikaki sembunyi

kaki, dimata membenam nurani
kaki, dikaki mencari

kaki, dikaki dihimpit
kaki, dikaki berlari

kaki, mu dan aku
kaki, kita dan mereka
kaki siapa lagi ?

Dia ?
— dimana Tuhan !

kaki, dikaki lelaki
kaki, dihati lelaki
menjelma hati melukis kaki :
— mencari Tuhan

 

TEMBANG SEMUSIM DI PADANG LALANG
(Bagi Mas Karyo, petani tangguh di Dukuh Semplak)

Oleh :
Widjati

Ketika senja turun ingin berkisah
Tanah ini serasa temaram digenggam sepi
Ketika kulihat hanya sejengkal tanah basah
Dan nisan-nisan tua dimakan rayap.
Dulu kisah riwayatmu pernah kusadap
Tanah yang gembur tersembul lewat rawa-rawa
Yang penuh jelatang gigitan lintah darat
Di sepetak sawahmu yang kering kerontang.
Seorang petani tua di tengah-tengah ladang
Kuat dan tangkas mengayunkan cangkulnya
Demikian tangkas dilipatnya tanah berbungkal-bungkal
Adalah kisahnya yang paling menawan.
Secupak tanah bersandar, mimpinya padang basah
Sekepal hanya sekepal, kau dendangkan.
Nikmatnya bermandikan cahaya langit
Dingin angin kemarau kering membersit
Kepadamu sawah-ladang kau pertaruhkan
Dan di atas mentari menatap sorotnya tajam.
Duhai langit dari segala cuaca
Mentari yang gosong mengusik kantukmu
Dan kemarau menampar harapanmu, Mas Karyo
Bukankah engkau adalah petani tangguh
Yang pandai berkisah tentang langit
Dan musim di segala cuaca.
Sebuah prosa kehidupan yang mengharukan
Satu dari seribu satu kisah duka nestapa
Telah kaugadaikan nasibmu pada selembar kertas usang
Dan dalam letih terasa tubuhmu kian terbelah.
Mas Karyo, kita telah sama berangkat dari takdir yang sama
Namun dalam makna lain dan nasib yang berbeda
Demikian hidup serasa tak bertuan datang dan pergi
Telah kauhayati sepanjang hidup sepanjang tahun.
Kini, anak-cucumu telah berangkat dari kesaksian lain
Pada makna lain, segalanya dan semuanya
Luluh-lantak dilanda prahara erosinya zaman.
Selamat jalan Mas Karyo, semoga tenang arwahmu
Di alam yang damai dan langgeng.
“Sic Transit Gloria Mundi”
Di dunia ternyata tiada yang kekal tiada yang abadi!
Kemantran-Tegal, September 1999

 

 

DI ANTARA BAYANG-BAYANG

 

Oleh :
Widjati

Beribu sajakmu kembali membakar menghanguskan ragaku
Menjelma serpihan topan lumpur dan batu-batu
Duniamu yang belum mau sudah katamu sambil
Melukis huru-hara riuhnya pemberontakan.
Adakah yang lebih sesat di antara dentuman meriam
Barangkali bayanganmu menyimpan seribu satu letusan
Seperti lukisanmu yang mempermainkan sejuta bayang
Bersama tariannya yang menari-nari di hutan belantara.
Astaga, wajahmu wajahku berserakan di sepanjang trotoar
Beribu pasang mata kehilangan kaki-kakinya yang patah
Udara kian menyesak memasuki rongga kehidupan
Mentari kian gosong membakar tubuhmu dan tubuhku.
Wah, segala hitam segala yang legam segala yang
Tubuhmu lumer seperti lilin yang kehabisan lemak
Jangan bimbang saudara karena kita adalah aktor piawai
Yang pandai bersandiwara `nyanyikan lagu sakitnya zaman`.
Di tengah gemuruhnya suara-suara dari seberang lautan
Masihkah suara gitarmu bergema di sela tangisnya anak-anak jalanan
Beribu mereka entah siapa entah engkau entah aku kutak tahu
Catatan hanya mengenalnya nomor-nomor mereka yang hilang.
Inikah akhir yang kaulukis rindunya sebuah sajak
Sementara awan di atas memancarkan wajahnya yang muram
Mari, habiskan mimpimu dan mimpiku sampai akhir hayat
Sebelum senja menganga di balik liang kasihmu dan kasihku.
Kemantran-Tegal, 25 Oktober 1998

 

GADIS PEMINTA-MINTA

Oleh  :
Toto Sudarto Bachtiar

Setiap kali bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa

Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dari kemayaan riang

Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bisa membagi dukaku

Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu, tak ada yang punya
Dan kotaku, ah kotaku
Hidupnya tak lagi punya tanda

IBU KOTA SENJA

Oleh :
Toto Sudarto Bachtiar

Penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari
Antara kuli-kuli berdaki dan perempuan telanjang mandi
Di sungai kesayangan, o, kota kekasih
Klakson oto dan lonceng trem saing-menyaingi
Udara menekan berat di atas jalan panjang berkelokan

Gedung-gedung dan kepala mengabur dalam senja
Mengarungi dan layung-layung membara di langit barat daya
0, kota kekasih
Tekankan aku pada pusat hatimu
Di tengah-tengah kesibukanmu dan penderitaanmu

Aku seperti mimpi, bulan putih di lautan awan belia
Sumber-sumber yang murni terpendam
Senantiasa diselaputi bumi keabuan
Dan tangan serta kata menahan napas lepas bebas
Menunggu waktu mengangkut maut

Aku tiada tahu apa-apa, di luar yang sederhana
Nyanyian-nyanyian kesenduan yang bercanda kesedihan
Menunggu waktu keteduhan terlanggar di pintu dinihari
Serta keabadian mimpi-mimpi manusia

Klakson dan lonceng bunyi bergiliran
Dalam penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari
Antara kuli-kuli yang kembali
Dan perempuan mendaki tepi sungai kesayangan
Serta anak-anak berenangan tertawa tak berdosa
Di bawah bayangan samar istana kejang
Layung-layung senja melambung hilang
Dalam hitam malam menjulur tergesa

Sumber-sumber murni menetap terpendam
Senantiasa diselaputi bumi keabuan
Serta senjata dan tangan menahan napas lepas bebas
0, kota kekasih setelah senja
Kota kediamanku, kota kerinduanku

 

 

PAHLAWAN TAK DIKENAL
Oleh :
Toto Sudarto Bahtiar

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda

Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda

(1955)

 

ODE    I
Oleh :
Toto Sudarto Bahtiar

katanya, kalau sekarang aku harus berangkat
kuberi pacarku peluk penghabisan yang berat
aku besok bisa mati, kemudian diam-diam
aku mengendap di balik sendat kemerdekaan dan malam

malam begini beku, dimanakah tempat terindah
buat hatiku yang terulur padamu megap dan megah
O, tanah
tanahku yang baru terjaga

malam begini sepi dimanakah tempat yang terbaik
buat peluru pistol di balik baju cabik
0, tanah di mana mesra terpendm rindu
kemerdekaan yang mengembara kemana saja

ingin aku menyanyi kecil, tahu betapa tersandarnya
engkau pada pilar derita, megah napasku di gang tua
menuju kubu musuh di kota sana
aku tak sempat hitung langkahku bagi jarak

mungkin pacarku kan berpaling
dari wajahku yang terpaku pada dinding
tapi jam tua, betapa pelan detiknya kudengar juga
di tengah malam yang begini beku

teringat betapa pernyataan sangat tebalnya
coretan-coretan merah pada tembok tua
betapa lemahnya jari untuk memetik bedil
membesarkan hatimu yang baru terjaga

Kalau serang aku harus ergi, aku hanya tahu
kawan-kawanku akan terus maju
tak berpaling dari kenangan pada dinding
O, tanah dimana tempat yang terbaik buat hati dan hidupku

ODE     II

Oleh :
Toto Sudarto Bahtiar

dengar, hari ini ialah hari hati yang memanggil
dan derap langkah yang berat maju ke satu tempat
dengar, hari ini ialah hari hati yang memanggil
dan kegairahan hidup yang harus jadi dekat

berhenti menangis, air mata kali ini hanya buat si tua renta
atau menangis sedikit saja
buat sumpah yangtergores pada dinding-dinding
yang sudah jadi kuning dan jiwa-jiwa yang sudah mati

atau buat apa saja yang dicintai dan gagal
atau buat apa saja
yang sampai kepadamu waktu kau tak merenung
dan menampak jalan yang masih panjang

dengar, hari ini ialah hari hatiku yangmemanggil
mata-mata yang berat mengandung suasana
membersit tanya pada omong-omong orang lalu
mengenangkan segenap janji yang dengan diri kita menyatu

dengarlah, o, tanah di mana segala cinta merekamkan dirinya
tempat terbaik buat dia
ialah hatimu yang kian merah memagutnya
kala hdia terbaring di makam senyap pangkuanmu *

*kenangan buat matinya seorang pejuang

 

 

12 MEI 1998
Oleh :
Taufik Ismail

Empat syuhada berangkat pada suatu
malam, gerimis air mata
tertahan di hari keesokan, telinga kami
lekapkan ke tanah kuburan
dan simaklah itu sedu sedan

Mereka anak muda pengembara tiada
sendiri, mengukir reformasi
karena jemu deformasi, dengarkan saban
hari langkah sahabat-
sahabatmu beribu menderu-deru,
Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu
Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom
abad duapuluh satu
Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi
kalian tertinggi di Trisakti bahkan di seluruh negeri, karena
kalian berani mengukir
alfabet pertama dari kata reformasi-damai
dengan darah
arteri sendiri,
Merah putih yang setengah tiang ini, merunduk
di bawah garang
matahari tak mampu mengibarkan diri
karena angin lama
bersembunyi,
Tapi peluru logam telah kami patahkan
dalam doa bersama, dan kalian
pahlawan bersih dari dendam, karena jalan
masih jauh
dan kita perlukan peta dari Tuhan
***

1946 : LARUT MALAM SUARA SEBUAH TRUK

 Oleh :

Taufiq Ismail

                            Sebuah Lasykar truk
Masuk kota Salatiga
Mereka menyanyikan  lagu
‘Sudah Bebas Negeri Kita’

Di jalan Tuntang seorang anak kecil
Empat tahun terjaga :
‘Ibu, akan pulangkah Bapa,
dan membawakan pestol buat saya ?’
(1963)

 

 

BUKU TAMU MUSIUM PERJUANGAN

Oleh :

Taufiq Ismail

Pada tahun keenam
Setelah di kota kami didirikan
Sebuah Musium Perjuangan
Datanglah seorang lelaki setengah baya
Berkunjung dari luar kota
Pada sore bulan November berhujan
dan menulis kesannya di buku tamu
Buku tahun keenam, halaman seratus-delapan

Bertahun-tahun aku rindu
Untuk berkunjung kemari
Dari tempatku jauh sekali
Bukan sekedar mengenang kembali
Hari tembak-menembak dan malam penyergapan
Di daerah ini
Bukan sekedar menatap lukisan-lukisan
Dan potret-potret para pahlawan
Mengusap-usap karaben tua
Baby mortir buatan sendiri
Atau menghitung-hitung satyalencana
Dan selalu mempercakapkannya

Alangkah sukarnya bagiku
Dari tempatku kini, yang begitu jauh
Untuk datang seperti saat ini
Dengan jasad berbasah-basah
Dalam gerimis bulan November
Datang sore ini, menghayati musium yang lengang
Sendiri
Menghidupkan diriku kembali
Dalam pikiran-pikiran waktu gerilya
Di waktu kebebasan adalah impian keabadian
Dan belum berpikir oleh kita masalah kebendaan
Penggelapan dan salahguna pengatasnamaan

Begitulah aku berjalan pelan-pelan
Dalam musium ini yang lengang
Dari lemari kaca tempat naskah-naskah berharga
Kesangkutan ikat-ikat kepala, sangkur-sangkur
berbendera
Maket pertempuran
Dan penyergapan di jalan
Kuraba mitraliur Jepang, dari baja hitam
Jajaran bisu pestol Bulldog, pestol Colt

PENGOEMOEMAN REPOEBLIK yang mulai berdebu
Gambar lasykar yang kurus-kurus
Dan kuberi tabik khidmat dan diam
Pada gambar Pak Dirman
Mendekati tangga turun, aku menoleh kembali
Ke ruangan yang sepi dan dalam
Jendela musium dipukul angin dan hujan
Kain pintu dan tingkap bergetaran
Di pucuk-pucuk cemara halaman
Tahun demi tahun mengalir pelan-pelan

                            Deru konvoi menjalari lembah
                            Regu di bukit atas, menahan nafas

Di depan tugu dalam musium ini
Menjelang pintu keluar ke tingkat bawah
Aku berdiri dan menatap nama-nama
Dipahat di sana dalam keping-keping alumina
Mereka yang telah tewas
Dalam perang kemerdekaan
Dan setinggi pundak jendela
Kubaca namaku disana…..

GUGUR DALAM PENCEGATAN
TAHUN EMPATPULUH-DELAPAN

Demikian cerita kakek penjaga
Tentang pengunjung lelaki setengah baya
Berkemeja dril lusuh, dari luar kota
Matanya memandang jauh, tubuh amat kurusnya
Datang ke musium perjuangan
Pada suatu sore yang sepi
Ketika hujan rinai tetes-tetes di jendela
Dan angin mengibarkan tirai serta pucuk-pucuk cemara
Lelaki itu menulis kesannya di buku-tamu
Buku tahun-keenam, halaman seratus-delapan
Dan sebelum dia pergi
Menyalami dulu kakek Aki
Dengan tangannya yang dingin aneh
Setelah ke tugu nama-nama dia menoleh
Lalu keluarlah dia, agak terseret berjalan
Ke tengah gerimis di pekarangan
Tetapi sebelum ke pagar halaman
Lelaki itu tiba-tiba menghilang

 

 

JAWABAN DARI POS TERDEPAN
Oleh :
Taufiq Ismail

Kami telah menerima surat saudara
Dan sangat paham akan isinya
Tetapi tentang pasal penyerahan
Itu adalah suatu penghinaan
Konvoi sejam lamanya menderu
Di kota. Api kavaleri memancar-mancar
Di roda-rantai dan aspal

Angin meniup dalam panas dan abu
Abu baja. Nyala yang menggeletar-geletar
Sepanjang suara
Kami yang bertahan
Beberapa ratus meter jauhnya
Bukanlah serdadu-serdadu bayaran
Atau terpaksa berperang karena pemerintahan
Kebebasan manusia di atas buminya
Adalah penyebab hadir pasukan ini
Dan pasukan-pasukan lainnya

Impian akan harga kemerdekaan manusia
mengumpulkan seorang tukang cukur, penanam-penanam sayur
gembala-gembala, (semua buta huruf) kecuali dua anak SMT
sopir taksi dan seorang mahasiswa kedokteran
dalam pasukan
di pos terdepan ini

Terik dan lengang dipandang tak bertuan
Abu naik perlahan dari bumi
Bumi yang telah diungsikan

Guruh dari jauh, konvoi menderu
Suara panser dan  tank-tank kecil
Mengacukan senjata-senjata baru

Kami tidak punya batalion paratroop
Cadangan sulfa, apalagi mustang dan lapis-baja
Kami hanya memiliki karaben-karaben tua
Bahkan bambu pedesaan, ujungnya diruncingkan

Pasukan ini tak bicara dalam bahasa akademi militer
Tidak juga memiliki pengalaman perang dunia
Tetapi untuk kecintaan akan kebebasan manusia
Di atas buminya
Pasukan ini sudah menetapkan harganya

Sebentar lagi malampun akan turun
membawa kesepian ajal dalam gurun
Tidakkah engkau bisa menempatkan diri
sebentar, di tempat kami
Memikirkan bahwa ibumu tua diungsikan
tersaruk-saruk berjalan kaki
Setelah rumah-rumah di kampungmu dibakari
setelah adik kandungmu ditembak mati

Adakah demi lain, yang mengatasi
demi kemanusiaan ?
Adakah ?

Di seberang sini berjaga pengawalan
Tanpa gardu dan kemah, berbaju lusuh dalam semak
Dialah yang terdepan dengan sepucuk Lee & Field
Dialah huruf pertama dari Republik

 

 

KUTAHU KAU KEMBALI JUA ANAKKU

 Oleh :

Taufik Ismail

Saudara-kandungku pulang perang, tangannya merah
Kedua pundak landai tiada tulang selangka
Dia tegak goyah, pandangnya pada kami satu-satu
Aku tahu kau kembali jua anakku

Tiba-tiba dia roboh di halaman dia kami papah
Ibu pun perlahanmengusapi dahinya tegar
Tanganku amis ibu, tanganku berdarah
Aku tahu kau kembali jua anakku

Siang itu dia tergolek ibu, lekah perutnya
Aku tak membidiknya, tapi tanganku bersimbah
Tunduk terbungkuk matanya sangat papa
Kami sama rebah, kupeluk dia di tanah

Kauketuk sendiri ambang dadamu anakku
Usapkan jemari sudah berdarah
Simpan laras bedil yang memerah
Kutahu kau kembali jua anakku

 

 

PRESIDEN BOLEH PERGI
PRESIDEN BOLEH DATANG
Oleh :
Taufiq Ismail

Sebuah orde tenggelam
Sebuah orde timbul
selalu saja ada suatu lapisan
masyarakat di atas gelombang itu selamat
Mereka tidak mengalami guncangan yang berat
Yang selalu terapung di atas gelombang
Seseorang dianggap tidak bersalah
sampai dia dibuktikan hukum bersalah
Di negeri kami ungkapan ini begitu indah
Kini simaklah sebuah kisah
Seorang pegawai tinggi
gajunya satu setengah juta rupiah
Di garasinya ada volvo hitam
BMW abu-abu, Honda metalik,
dan Mercedes merah
Anaknya sekolah di Leiden,
Montpellier dan Savana
Rumahnya bertebaran di Menteng,
Kebayoran dan macam-macam indah
Setiap semester ganjil isteri terangnya
belanja di Hongkong dan Singapura
Setiap semester genap isteri gelapnya
liburan di Eropa dan Afrika
Anak-anaknya………………..
Anak-anaknya pegang dua pabrik
tiga apotek dan empat biro jasa
Selain sepupu dan kemenakannya
buka lima toko onderdil, lima biro iklan
dan empat pusat belanja

Ketika rupiah anjlok terperosaok,
kepeleset macet dan hancur jadi bubur,
dia, hah ! dia ketawa terbahak-bahak
kerena depositonya dollar Amerika semua
Sesudah matahari dua kali tenggelam
di langit Barat, jumlah rupiahnya
melesat sepuluh kali lipat
Krisis makin menjadi-jadi
Dimana-mana orang antri
Maka 100 kotak kantong plastik hitam
dia bagi-bagi
Isinya masing-masing : Lima genggam beras,
empat cangkir minyak goreng, dan tiga bungkus
mie cepat jadi.
Peristiwa murah ini diliput
dua menit di kotak televisi
dan masuk koran halaman lima pagi sekali
Gelombang mau datang,
Datang lagi gelombang setiap bah air pasang
Dia senantiasa terapung di atas banjir bandang
Banyak orang tenggelam toh mampu timbul lagi
lalu ia berkata sambil berdiri :
Yaaa….. masing-masing kita kan
punya rejeki sendiri-sendiri
Seperti bandul jam bergoyang-goyang
Kekayaan misterius mau diperiksa
Kekayaan ……tidak jadi diperiksa
Kekayaan ……mau diperiksa
Kekayaan ……tidak jadi diperiksa
Kekayaan ……mau diperiksa
Kekayaan ……tidak jadi diperiksa
Kekayaan ……harus diperiksa
Kekayaan ……tidak jadi diperiksa

 

 

TENTANG SERSAN NURCHOLIS

Oleh :

Taufiq Ismail

 

Seorang Sersan
Kakinya hilang
Sepuluh tahun yang lalu
Setiap siang
Terdengan siulnya
Di bengkel arloji
Sekali datang
Teman-temannya
Sudah orang resmi
Dengan senyum ditolaknya
Kartu anggota
Bekas pejuang
Sersan Nurcholis
Kakinya hilang
Di jaman Revolusi
Setiap siang
Terdengan siulnya
Di bengkel aroloji

 

TENTANG SERSAN NURCHOLIS

Oleh :

Taufiq Ismail

 

Seorang Sersan
Kakinya hilang
Sepuluh tahun yang lalu
Setiap siang
Terdengan siulnya
Di bengkel arloji
Sekali datang
Teman-temannya
Sudah orang resmi
Dengan senyum ditolaknya
Kartu anggota
Bekas pejuang
Sersan Nurcholis
Kakinya hilang
Di jaman Revolusi
Setiap siang
Terdengan siulnya
Di bengkel aroloji

 

 

OPERA PENGUBURAN

Oleh :
Soni Farid Maulana

Di liang lahat saat menerima jasadmu
Serasa tubuh dan nyawa sendiri yang dikuburkan
Di pemakaman ini.
Likat tanah juga putih kain kafan
Menjulangkan tanya; Apa kuasa manusia atas kehendakNya?
Bulu kudukku berdiri saat mata batinku menangkap
Bayang-bayang orang yang bertasbih dan berdzikir
Mengantar jasadku ke liang lahat ini ke likat tanah ini

Kubaringkan jasadmu perlahan
Adzan dan qomat silih berganti menyelusup
Ke dalam pendengaranku. Setelah itu hanya keheningan
Semata keheningan di batinku saat liang lahat ditutup
Saat bunga ditaburkan dan kelak membusuk
Dikulum ulat, cuaca, dan hujan. Saat kakiku melangkah

Meninggalkan gundukan tanah merah
Yang kekal di situ hanya setangkai doa yang kupetik
Dari taman kalbuku dan aku hadiahkan untukmu
Kau tahu, kenangan kerap menjaringku
Bagai sehampar langit kelabu

”Anakku, duka semacam inikah
Yang kelak kau tanggung? Tak kutahu
Duka bertakhta sekelam itu.”

1996

 

BIOGRAFI KEGELAPAN

Oleh :

Soni Farid Maulana

Digoda bayangan kelam yang melayang Bagai gagak hitam — ia kerat jaringan urat nadi Pada lengannya sendiri bagai mengerat seutas Tali jemuran hijau lumut. Tapi ruh bayi yang ia aborsi Dari rahim ibunya, secara gaib dari langit yang lain Menyelundupkan bergalon-galon darah segar Pada jantung dan jaringan urat nadi yang ia kerat Sore tadi di kamar mandi tanpa sabun cuci.

Di kamar gawat darurat di atas kasur Yang serba putih — ia heran pada dirinya sendiri Masih bisa menghirup udara segar Seperti menghirup wangi parfum yang ngalir Dari tubuh seorang perawat berparas cantik Dengan sepasang payudara yang ligar cempaka.

Ketika mimpi buruk kembali menyelinap Ke dalam benaknya — ketika tangis bayi yang ia Aborsi sepanjang bulan dan tahun macan Terdengar dari balik hari; ia gemetar, takut, Dan sedih, bahkan gugup di tepi ranjang.

Ia ingin mati saat mendengar derit pintu rumah sakit Dibuka seorang petugas. Bunyinya mengingatkan Suara pintu sel penjara yang berkarat Airmata. Di situ hanya angin yang bangkit Dari arah kuburan — menyalami jiwanya yang dalam Dengan rasa sunyi dan sepi yang berat dan hitam Bagai sebongkah batu dasar kali. Ya, Hanya angin yang bangkit. Tak ada ibu bayi Yang ia aborsi menemaninya di situ Selain detik jam yang lambat Dan pasti menuntut keadilan Pada kedua matanya.
1997

 

PEDATI TUA
Oleh :
Slamet Sukirnanto

 

Pedati tua
Jalanmu terseok
Beban berat dan sarat
Meskipun engkau yakin
Jalanmu ke depan.
Tetapi engkau tanpa tahu tujuan
Tiada henti.
Berjalan dan berjalan

Pedati Tua
Membawa beban sejarah
Melangkah tanpa impian
Sia-sia
Pedati tua
Kadang berhenti juga
Tetapi karena tersandung
Bukan merenung ke arah mana
Langkah harus diayun
Pedati tua
Menghela nafas
Tanpa kompas
Di langit mendung
Dan mendung
Menggantung di angkasa

Pedati tua
Beban itu
Bergumpal
Menggunung
Roda-roda berderak
naik turun
Dan engkau merangkak
Tanpa jejak
Dari tahun ke tahun

 

PENANTANG MONAS

Oleh :
Slamet Sukirnanto

susur nenek-nenek terjatuh
masuk kali
gagasan bagus
mengembangkan teknologi
tetapi di desaku
beterei adalah puncak kemajuan
zaman ini
di atas kepala
mengembara
penganggur-penganggur
Tuban banjir
Gresik banjir
Tetapi kenapa
Kang Atmo gembira
Main gitar di jagalan Solo
Ngadiman
Arek Wonogiri uro-uro di teras rumah
lagu Bengawan Solo
mendapat tepukan di Jepang
siapa ikut melongok etalase
Bonekamu montok-montok
menawarkan. Di tengah lapangan bola
Clinton jatuh hidup clinton.
Koran pagi. Koran siang. Koran Sore
Malam ngomel sendiri
Di atas meja meja kursi kursi
di atas lantai, tong sampah
lumayan bungkus nasi;
melipat barang import
Kikers atau Adidas
merk bule kuli pribumi
Dan ingat yang paling perawan
menantang monas!
sanjunglah
cacing cacing
Bocah bocah Sarajevo menang
Mengintip lubang meriam malam hari
Mencari di dapur tersedia
granat dan sedikit makanan
sisa kemarin. Aduh panasnya
siang. Jasad menggelepar di
tengah lapangan

uro-uro : tembang, nyanyi cara Jawa dalam suasan santai
Bengawan Solo : lagu keroncong ciptaan Gesang

LAGU TANAH AIRKU

Buat Walt Whitman

Oleh :
Piek Ardijanto Soeprijadi

sudahkah kau dengar lagu berjuta nada
lagu tanah airku yang menggema di seluruh dunia
dengarkanlah merdu suaranya
dengarkanlah indah iramanya
masinis melagu bersama gemuruh mesin
tukang kayu berdendang ditingkah gergaji makan papan
tukang batu menyanyi bersama semen memeluk bata
nakhoda senandung menyanjung ombak menelan haluan
tukang sepatu berlagu mengiring palu menghantam paku
penebang pohon berdendangbersama gema kapak dalam hutan
petani nembang di atas bajak berjemur di lumpur

betapa merdu lagu tanah airku
meletus nyanyi di pagi hari
menegang di rembang siang
melenyap di senja senyap

bila malam mengembang ibu nembang
tidurlah berlepas lelah anakku sayang
lampu bumi bawa mimpi damai dunia
esok masih ada kerja untuk nusa dan bangsa

 

 

ODE PRAJURIT TANPA NAMA

Oleh :
Ahmadun Yosi Herfanda

bendera-bendera berkibar di udara
burung-burung bernyanyi di dahan-dahannya
dan orang-orang berteriak ”telah bebas negeri kita”
tapi aku tertatih sendiri
di bawah patung kemerdekaan yang letih
dan tersuruk di bawah mimpi reformasi

kau pasti tak mengenaliku lagi
seperti dulu, ketika tubuhku terkapar penuh luka
di sudut stasiun jatinegara, setelah sebutir peluru
menghajarku dalam penyerbuan itu
dan negeri yang kacau mengubur riwayatku
dalam sejarah berdebu

setengah abad lewat kita melangkah
di tanah merdeka, sejak soekarno-hatta
mengumumkan kebebasan negeri kita
lantas kau dirikan partai-partai
juga kursi-kursi di atasnya
tapi kau kini menjelma konglomerat berdasi
penguasa yang merampas kemerdekaan
rakyat sendiri

gedung-gedung berjulangan
hotel-hotel berbintang, toko-toko swalayan
jalan-jalan layang, mengembang bersama
korupsi, kolusi, monopoli, manipulasi,
yang membengkakkan perutmu sendiri
sedang aku tetap prajurit tanpa nama
tanpa tanda jasa, tanpa seragam veteran
tanpa kursi jabatan, tanpa gaji bulanan
tanpa tanah peternakan, tanpa rekening siluman
tanpa istri simpanan

bendera-bendera kini berkibaran lagi
dan sambil bernyanyi ”padamu negeri”
kau bagi-bagi uang hasil korupsi
sedang aku tertatih sendiri
letih dibakar matahari

jakarta, agustus 1996

 

 

INDONESIA AKU TETAP MENCINTAIMU
Oleh :
Ahmadun Yosi Herfanda

 

Indonesia aku tetap mencintaimu
sungguh, cintaku tulus dan murni padamu
ingin selalu kukecup keningmu
seperti kukecup kening istriku

 

Burung-burung masih bernyanyi menghiburmu
pesawat-pesawat menderu membelah langitmu
tapi sungguh hatiku amat pilu
ketika kudengar lagi tangismu
tangis dua ratus juta rakyat yang ikut
tergencet beban utang negara
tangis berjuta jiwa yang berpuluh tahun
dibungkam mulutnya, tangis berjuta mata
yang terus melihat tapi dipaksa
untuk tidak mengatakannnya, tangis
berjuta telinga yang terus mendengar
omong-omong kosong pejabat-pejabat negara

 

sungguh aku tetap mencintaimu, Indonesia
ingin selalu kucium jemari tanganmu
seperti kucium jemari tangan ibuku
sungguh, cintaku tulus dan murni kepadamu
dan , karena itulah, ketika orang-orang
ramai-ramai membeli dollar Amerika
tetap kubiarkan tabunganku dalam rupiah
sebab sudah tak tersisa lagi saldonya

 

 

RESONANSI INDONESIA

Oleh :
Ahmadun Yosi Herfanda

bahagia saat kau kirim rindu
termanis dari lembut hatimu
jarak yang memisahkan kita
laut yang mengasuh hidup nakhoda
pulau-pulau yang menumbuhkan kita
permata zamrud di katulistiwa
: kau dan aku
berjuta tubuh satu jiwa

kau semaikan benih-benih kasih
tertanam dari manis cintamu
tumbuh subur di ladang tropika
pohon pun berbuah apel dan semangka
kita petik bersama bagi rasa bersaudara
: kau dan aku
berjuta kata satu jiwa

kau dan aku
siapakah kau dan aku?
jawa, cina, aceh, batak, arab, dayak
sunda, madura, ambon, atau papua?
ah, tanya itu tak penting lagi bagi kita
: kau dan aku
berjuta wajah satu jiwa

ya, apalah artinya tembok pemisah kita
apalah artinya rahim ibu yang berbeda?
jiwaku dan jiwamu, jiwa kita
tulus menyatu dalam asuhan
burung garuda

 

 

SAJAK MABUK REFORMASI

Oleh :
Ahmadun Yosi Herfanda

tuhan, maafkan, aku mabuk lagi
dalam pusingan anggur reformasi
menggelepar ditindih bayang-bayang diri
seember tuak kebebasan mengguyurku
membantingku ke ujung kakimu
luka-luka kepalaku, luka-luka dadaku
luka-luka persaudaraanku
luka-luka hati nuraniku

aku mabuk lagi, terkaing-kaing
di comberan negeriku sendiri. peluru tentara
menggasak-gasakku, pidato pejabat
merobek-robek telingaku, penggusuran
menohokku, korupsi memuntahiku
katebelece meludahiku, suksesi
mengentutiku, demonstrasi mengonaniku
likuidasi memencretkanku, kemiskinan
merobek-robek saku bajuku

tuhan, maafkan, aku mabuk lagi
menggelinding dari borok ke barah
dari dukun ke setan, dari maling ke preman
dari anjing ke pecundang, dari tumbal
ke korban, dari krisis ke kerusuhan!

aku mabuk lagi, mana maling mana polisi
mana pahlawan mana pengkhianat, mana
pejuang mana penjilat, mana mandor
mana pejabat, mana putih mana hitam
mana babi mana sapi, mana pelacur
mana bidadari, mana perawan mana janda
mana tuhan mana hantu? semua seragam
sulit kubedakan lagi

aku mabuk lagi!
berhari-hari, berbulan-bulan
tanpa matahari
tuhan, maafkan ….

Jakarta, Mei 1998

 

 

KEPADA TANAH AIR

Oleh :
Budiman S. Hartoyo

apa yang kukatakan padamu
ya, tumpahan segala kerja
apalah yang bisa kuberikan padamu
wahai, cucuran darah jelata

terik surya di atas khatulistiwa
demikian keras menghisap keringatku
bumi subur yang tak terduga
terlalu kaya buat disiram air mata

tanah air yang pendiam dan rendah hati
siangmu kudengar dalam keluh kerja resia
malammu memeras kediaman tangis dan dosa
adakah keluh duka ini akan terpupus oleh kata demi kata ?

Di sini berkecamuk nasib dan harap tertunda
di sini berabad terpampat derita rakyat membaja
aku tahu, antara perbuatan, kerja dan cinta
sudah sekian lama bangsaku memperhitungkannya

segala lagu angin dan lambaian pucuk-pucuk kelapa
deburan ombak dan kicau burung pagi dan senja
seolah mengabarkan sebuah kerinduan
tentang kemerdekaan yang sebenarnya hilang di angan

apalah yang lebih penting dari makna kehidupan
dalam tuntutan segenap bangsaku yang lapar merana
selain nafas kerinduan akan cinta
selain arti yang terwujud dalam kebenaran arti kerja
namun tangis anak-anak yang tak kunjung mengerti
adalah pernyataan yang sungguh tentang arti rizki
sementara itu bapa-bapa kita yang terhormat bicara juga
sedang apa pun yang terjadi
di mimbar atau di sini
tidak juga dipenuhi !

 

 

MAJULAH PAHLAWAN

Oleh :
Budiman  S. Hartoyo

Majulah pahlawan dengan dada terbuka.
Majulah ! Berderapan musuh bersama maut menyerang.
Sementara bintang-bintang pun bersaksi di kelam angkasa
atas kejantananmu dan musuh-musuh yang berebahan.

Telah bergelimang darah di lembah
telah berebahan kawan-kawan  di garis depan,
di bawah langit mengancam suara lantang kemerdekaan.
Semangat perkasa, – hari depan nusantara !

Segenap warga tanah ini pun menabikkan salam;
salam cinta bumi dan bangsa yang lahir dalam revolusi.
Sedang malam pun segera mengusap bendera merah putih
yang mengibaskan berita pahlawan benam darah.

Adalah cinta kami, itu warna kucuran darah.
Adalah hati kami, itu warna putih butiran air mata.
Dan cinta kami padamu menyejuk langit-langit kubur
yang memutih cerlang surya atas gemeriap tugu kemerdekaan.

Majulah pahlawan dengan dada terbuka, kala senja di kota !
Majulah demi kemerdekaan yang lahir atas nama cinta !
Kenangan padamu menggeleparkan doa di ambang arasj Tuhan
Dan majulah kemudian
berbondong ke lembah sorga
sedang laras bedil masih di tangan
dan darah mengucuri di jalan – jalan
Maka bernyanyilah segenap malaikat dan bidadari
Maka semaraklah wewangian sorga, tetes darah pahlawan,
karna adalah saksi bagimu, – pejuang-pejuang kemanusiaan;
sementara masih terkenang jua tentang kehidupan
dan napas dunia dan manusia dalam kelaparan !

 

http://www.geocities.com/paris/parc/2713/

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s